Sabtu, 27 September 2014

Menjadi Cemerlang dengan Karya Fiksi Memukau




Judul                : Menulis dengan Emosi – Panduan Empatik Mengarang Fiksi
Penulis             : Carmel Bird
Penerbit            : Kaifa
Penerjemah      : Eva Y. Nukman
Tahun               : 2001 (Cetakan I)
Tebal                : 259 halaman



Menemukan buku ini mengusik rasa penasaran hingga akhirnya saya baca juga bukunya. Karya fiksi seperti cerpen ataupun novel semakin digemari pecinta buku, didukung dengan semakin ramainya buku-buku fiksi dari penulis-penulis yang senior maupun penulis muda. Kemunculan banyaknya penulis muda memicu semangat bagi yang lain untuk ikut menghasilkan karya fiksi. Tetapi memang tidak semua orang dapat dengan mudah menulis karya yang baik dan memukau banyak pembaca.

Bagi seorang yang ingin menjadi penulis cerpen atau karya fiksi, tapi belum mampu menghasilkan satu karya yang layak karena berbagai hambatan, buku ini menjadi harapan. Harapan yang menguatkan kalau penulis karya fiksi itu tidak dilahirkan tapi dibentuk.

Penulis buku ini, Carmel Bird, adalah penulis beberapa novel dan kumpulan cerpen yang juga menulis buku yang berisi motivasi menulis. Buku ini berjudul asli “Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction”  yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Menulis dengan Emosi: Panduang Empatik Menulis Fiksi”. Buku ini pun menjadi pegangan di kelas menulis bagi siswa di perkuliahan tentang menulis di Australia.

Membaca buku ini bagaikan membaca surat dari seorang penulis profesional. Olehnya, kita serasa dibimbing langsung untuk menciptakan, membentuk, memoles karya fiksi dari draf awal yang masih mentah menjadi draf akhir yang matang yang kelak siap untuk diterbitkan. Memang buku ini berformat seperti surat dari seorang penulis perempuan yang profesional kepada seorang penulis perempuan yang baru memulai belajar membuat karya fiksi.

Tokoh penulis profesional dalam buku ini, Virginia O’day, adalah tokoh rekaan Bird, yang memandu ‘muridnya’ -- yang juga tokoh rekaan -- mulai dari naskah mentah hingga menjadi naskah yang matang dan siap diterbitkan. O’Day memandunya menemukan bahan cerita, mempergunakan kata-kata secara tepat, tentang bagaimana menyunting dan menulis ulang, menemukan judul yang menggugah, membuat fiksi dapat dipercaya secara logika, hingga mempersiapkan tampilan fisik untuk naskah yang sudah jadi. O’day juga memberikan bimbingan tentang bagaimana sikap yang sebaiknya dilakukan oleh seorang penulis ketika memilih profesi itu sebagai jalan hidupnya. Mental block adalah ‘penyakit’ yang sering menjangkiti penulis, dan O’day memiliki trik bagaimana mengatasinya.

Keseluruhan surat dari Virginia O’day yang berjumlah dua puluh dua surat menambah wawasan tentang bagaimana proses panjang yang semestinya dijalani seseorang untuk menjadi penulis dan menghasilkan karya yang baik.

Buku ini memberikan panduan tentang bagaimana dan apa saja yang perlu dilakukan untuk membuat karya fiksi yang memukau. Panduan tidak hanya bersifat teknis semata. Beberapa kutipan dari penulis dan penyair ternama yang dicantumkan di sana sini, menjadi kalimat yang memotivasi calon penuulis agar tidak surut semangat untuk terus mencoba dan berkarya. Bird juga menuliskan pengalamannya dalam proses menulis yang membutuhkan dedikasi dan ketekunan, bahwa pekerjaan menulis seringkali menuntut kita untuk melepaskan diri dari dunia nyata untuk merampungkan karyanya.

Hanya saja, saya sedikit dibingungkan dengan tahapan-tahapan yang kelihatan kurang runut. Ada beberapa surat, yang bahasannya masih ada sangkut pautnya satu sama lain, tapi dibahas dalam dua surat terpisah. Seperti ketika membahas tentang ‘pentingnya menulis dari hal-hal yang diketahui’ yang dipaparkan di surat pertama, dan tentang ‘pusat misteri’ yang dipaparkan di surat ketujuh. 
Kedua surat itu intinya sama-sama membahas tentang pentingnya pengalaman masa lalu untuk perkembangan si penulis, tapi dibedakan dalam dua surat berbeda dan berjeda diselingi oleh surat-surat yang membahas hal lainnya. Walau begitu secara keseluruhan, buku ini dapat menjadi referensi yang layak baca bagi orang-orang yang mau merintis menulis karya fiksi.

Seperti keterampilan lainnya, menulis pun adalah keterampilan yang bisa dipelajari dengan memperbanyak latihan. Belajar menulis, seperti juga belajar keterampilan lainnya, tidak hanya dengan mempelari teknik menulis tetapi juga memperbanyak referensi bacaan dan memperbanyak latihan. Penulis juga harus dapat memposisikan diri menjadi pembaca, supaya dapat memahami bagaimana selera dan pandangan pembaca jika ingin karyanya diterima oleh banyak orang. Itu pesan yang juga disampaikan oleh penulis buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar