Judul : Menulis dengan Emosi – Panduan Empatik Mengarang
Fiksi
Penulis : Carmel Bird
Penerbit : Kaifa
Penerjemah : Eva Y. Nukman
Tahun : 2001 (Cetakan I)
Tebal : 259 halaman
Menemukan buku ini mengusik rasa penasaran hingga akhirnya saya baca juga bukunya. Karya fiksi seperti cerpen ataupun novel semakin digemari pecinta buku, didukung dengan semakin ramainya buku-buku fiksi dari penulis-penulis yang senior maupun penulis muda. Kemunculan banyaknya penulis muda memicu semangat bagi yang lain untuk ikut menghasilkan karya fiksi. Tetapi memang tidak semua orang dapat dengan mudah menulis karya yang baik dan memukau banyak pembaca.
Bagi
seorang yang ingin menjadi penulis cerpen atau karya fiksi, tapi belum mampu menghasilkan
satu karya yang layak karena berbagai hambatan, buku ini menjadi harapan. Harapan
yang menguatkan kalau penulis karya fiksi itu tidak dilahirkan tapi dibentuk.
Penulis buku ini, Carmel Bird,
adalah penulis beberapa novel dan kumpulan cerpen yang juga menulis buku yang
berisi motivasi menulis. Buku ini berjudul asli “Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction” yang kemudian diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia dengan judul “Menulis
dengan Emosi: Panduang Empatik Menulis Fiksi”. Buku ini pun menjadi
pegangan di kelas menulis bagi siswa di perkuliahan tentang menulis di
Australia.
Membaca
buku ini bagaikan membaca surat dari seorang penulis profesional. Olehnya, kita
serasa dibimbing langsung untuk menciptakan, membentuk, memoles karya fiksi dari
draf awal yang masih mentah menjadi draf akhir yang matang yang kelak siap
untuk diterbitkan. Memang buku ini berformat seperti surat dari seorang penulis
perempuan yang profesional kepada seorang penulis perempuan yang baru memulai
belajar membuat karya fiksi.
Tokoh
penulis profesional dalam buku ini, Virginia O’day, adalah tokoh rekaan Bird,
yang memandu ‘muridnya’ -- yang juga tokoh rekaan -- mulai dari naskah mentah
hingga menjadi naskah yang matang dan siap diterbitkan. O’Day memandunya
menemukan bahan cerita, mempergunakan kata-kata secara tepat, tentang bagaimana
menyunting dan menulis ulang, menemukan judul yang menggugah, membuat fiksi
dapat dipercaya secara logika, hingga mempersiapkan tampilan fisik untuk naskah
yang sudah jadi. O’day juga memberikan bimbingan tentang bagaimana sikap yang
sebaiknya dilakukan oleh seorang penulis ketika memilih profesi itu sebagai
jalan hidupnya. Mental block adalah
‘penyakit’ yang sering menjangkiti penulis, dan O’day memiliki trik bagaimana
mengatasinya.
Keseluruhan
surat dari Virginia O’day yang berjumlah dua puluh dua surat menambah wawasan
tentang bagaimana proses panjang yang semestinya dijalani seseorang untuk
menjadi penulis dan menghasilkan karya yang baik.
Buku
ini memberikan panduan tentang bagaimana dan apa saja yang perlu dilakukan
untuk membuat karya fiksi yang memukau. Panduan tidak hanya bersifat teknis
semata. Beberapa kutipan dari penulis dan penyair ternama yang dicantumkan di
sana sini, menjadi kalimat yang memotivasi calon penuulis agar tidak surut
semangat untuk terus mencoba dan berkarya. Bird juga menuliskan pengalamannya dalam
proses menulis yang membutuhkan dedikasi dan ketekunan, bahwa pekerjaan menulis
seringkali menuntut kita untuk melepaskan diri dari dunia nyata untuk
merampungkan karyanya.
Hanya
saja, saya sedikit dibingungkan dengan tahapan-tahapan yang kelihatan kurang
runut. Ada beberapa surat, yang bahasannya masih ada sangkut pautnya satu sama
lain, tapi dibahas dalam dua surat terpisah. Seperti ketika membahas tentang ‘pentingnya
menulis dari hal-hal yang diketahui’ yang dipaparkan di surat pertama, dan
tentang ‘pusat misteri’ yang dipaparkan di surat ketujuh.
Kedua surat itu
intinya sama-sama membahas tentang pentingnya pengalaman masa lalu untuk
perkembangan si penulis, tapi dibedakan dalam dua surat berbeda dan berjeda
diselingi oleh surat-surat yang membahas hal lainnya. Walau begitu secara
keseluruhan, buku ini dapat menjadi referensi yang layak baca bagi orang-orang
yang mau merintis menulis karya fiksi.
Seperti
keterampilan lainnya, menulis pun adalah keterampilan yang bisa dipelajari
dengan memperbanyak latihan. Belajar menulis, seperti juga belajar keterampilan
lainnya, tidak hanya dengan mempelari teknik menulis tetapi juga memperbanyak
referensi bacaan dan memperbanyak latihan. Penulis juga harus dapat
memposisikan diri menjadi pembaca, supaya dapat memahami bagaimana selera dan
pandangan pembaca jika ingin karyanya diterima oleh banyak orang. Itu pesan
yang juga disampaikan oleh penulis buku ini.
