Buku ini ternyata
bukan sekedar tentang jalan-jalan ke Eropa yang didapat, tapi pelajaran
sejarah yang enak dibaca. Sejarah yang makin membukakan mata saya
tentang Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Penulis
buku ini adalah pegiat jurnalistik lulusan
Kedokteran Gigi UGM, yang kemudian bekerja sebagai jurnalis di satu
televisi swasta di Indonesia. Selain juga putri dari Amien Rais
Buku ini seolah menjadi buku pengantar untuk mempelajari
sejarah peradaban Islam di dunia. Bagi dunia awam yang belum tahu atau baru
tahu sedikit sekali tentang sejarah peradaban Islam di Dunia, setelah membaca
buku ini mungkin akan tergerak untuk mencari buku-buku referensi tambahan yang
berkaitan dengan sejarah Islam. Misalnya seperti saya yang jadi penasaran ingin
mencari tahu lebih jauh tentang peranan ilmuwan besar Muslim, Averrous atau Ibnu Rusyd yang dikagumi
oleh bangsa Eropa karena peranan beliau yang sangat besar dalam munculnya Masa
Renaissance di Eropa.
Buku
ini membuat sejarah yang terkadang membosankan untuk dibaca menjadi
menarik dan enak dibaca. Penyampaian sejarah dibalut dalam bentuk kisah
perjalanan wisata Hanum-Rangga, dan percakapan Hanum atau Rangga dengan
teman mereka yang
terasa mengalir.
Kisah dalam buku ini terbagi dalam 4 bagian. Yang pertama
adalah perjalanan di Wina (Austria), lalu di Paris (Perancis), lalu di Cordoba – Granada (Spanyol),
dan terakhir di Istanbul (Turki). Dalam sejarah peradaban Islam, negara Austria,
Perancis, Spanyol, dan Turki pernah menjadi saksi kejayaan Islam sekaligus
kejatuhannya.
Jejak-jejak kejayaan dan kejatuhannya itulah yang coba untuk
ditelusuri Hanum melalui pertemuannya dengan beberapa orang dan kunjungannya ke
beberapa situs-situs penting di negara-negara tersebut.
Melalui buku ini, Hanum mencoba untuk membumikan sejarah,
khususnya sejarah perkembangan Islam ke dalam bentuk yang lebih mudah diterima
kaum awam. Patut diapresiasi bagaimana Hanum bisa menterjemahkan sejarah ini ke
dalam bahasa dan bentuk populer sehingga penikmat novel yang lumayan awam
tentang sejarah Islam bisa lebih enjoy mempelajari sejarah tanpa ngantuk. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya :P.
