Hasil penelitian APA menunjukkan bahwa remaja adalah kelompok yang paling mengalami stres. Tiga domain utama kegiatan remaja adalah belajar, bergaul dan istirahat. Paradoks yang dialami pelajar adalah tidak menemukan cara mendapatkan hasil yang maksimal untuk ketiganya, dan hanya bisanmemilih 2 di antara ketiganya. Belum terhitung dengan isu-isu yang dialami remaja secara khusus. Ini semua menjadi tekanan yang dialami remaja.
Pada umumnya remaja belum tau bagaimana mengatasi tekanan tersebut, dan sekolah tidak mengajarkan keterampilan itu. Respons otomatis yang muncul ketika mengalami stres adalah respons yang dipelajari sejak dini dan berinteraksi dengan pengalaman hidup, yang belum tentu memberi dampak yang baik untuk kesehatan fisik, mental, dan proses belajar.
Cara Kita Merespon Stress
Secara otomatis, kita merespons stres dengan beberapa cara.
1. Lawan atau lari
Ketika mendapati kondisi yang membuat stres, kita terdorong untuk melakukan tindakan yang membuat sumber stres itu lenyap, bertindak agresif. Atau sebaliknya, kita bergerak menjauhi sumber stres karena mengalami kecemasan.
2. Diam dan menyerah
Menjadi stres dengan berpasrah pads keadaan. Ini terjadi sebagai bentuk atas depresi dan trauma yang dialaminya.
Kedua respons ini jika berlangsung terus menerus ketika menghadapi stres akan berakibat buruk bagi kesehatan fisiknya, baik jantungnya, imunitas, dan masalah metabolisme tubuh. Belum termasuk potensi memburuknya hubungan dengan orang lain.
Dampak buruk lainnya, otak terprogram untuk reaktif dan sulit mengakses kebijakan dalam diri, sulit berpikir jernih. Karena ketika merespons dengan lawan atau lari, juga diam dan menyerah, amigdala akan menjadi aktif, dan aktifitas kortex prefrontal akan padam. Amigdala adalah bagian otak yang bersiaga ketika kita merasa dalam kondisi bahaya. Korteks prefrontal adalah bagian otak yang membuat kita bisa berpikir jernih
Menanamkan Respons yang Sesuai terhadap Stres
Ada 2 pilihan respons lainnya yang bisa dimunculkan ketika mengalami stres. Tapi banyak orang tidak secara otomatis memunculkan respons seperti ini karena kurang memupuknya.
1. Mendengar dan menerima
Respons mendengar dan menerima adalah ketika kita menghadapi sumber stres itu dengan penerimaan yang penuh. Kita tidak berusaha mengingkari karena faktanya memang ada. Tapi kita dengan sadar menerimanya dengan terbuka baik kita suka ataupun tidak. Dengan ini kita mempertahankan kejernihan pikiran kita. Kita bernapas dengan tenang, memperoleh gambaran lebih luas tentang apanyang kita hadapi.
2. Menyambut
Respons ini adalah bentuk respons kasih sayang dan mencintai diri. Dalam respons ini kita mengelola stres yang ada atau keadaan yang sulit, sambil aktif merawat diri mengelola emosi yang muncul.
Stres bukan sesuatu yang buruk. Tapi kita harus tahu bagaimana merespons dengan sesuai. Tentu kita tetap membutuhkan respons lari atau melawan di saat yang tepat, misal ketika kita berhadapan dengan bahaya fisik yang nyata. Tapi kadang stres yang kita alami adalah karena sesuatu yang belum tentu membahayakan kita tapi kita terlanjur mempersepsikannya begitu.
Kesadaran Berpikir dan Otak Manusia
Otak kita ternyata masih bisa dilatih dan dikembangkan dengan serangkaian latihan kesadaran berpikir. Latihan ini akan. Berdampak pada perkembangan wilayah otak korteks prefrontal. Wilayah otak ini mengatur fungsi eksekutif, tempat pusat komando, dan tempat kendalinya fungsi analitis. Bagian otak ini membuat kita bis menekan rangsangan dan tidak langsung menanggapi dengan emosi.
Kesadaran berpikir bisa dilatih, sebagaimana halnya kekuatan otot yang bisa dilatih dengan seran.gkaian latihan fisik. kita berolahraga untuk melatih otot kita supaya kuat. Kita juga perlu memberikan latihan-latihan rutin untuk otak untuk meningkatkan kesadaran berpikir, kita bisa mengubah bentuk ukuran otak, mendorong konsentrasi, fleksibilitas dan kecerdasan, serta membangun jalur-jalur dan jaringan syaraf baru.
Fungsi otak yang mengatur
Melambatkan Benak Kita.